Kebugaran jasmani yang baik dicapai dengan latihan yang benar. Namun
demikian kebugaran jasmani mempunyai faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga
tercapai kebugaran yang baik. Menurut Perry Howard (1997: 37-38) faktor-faktor
yang mempengaruhi kebugaran jasmani adalah: umur, jenis kelamin, somatotipe,
atau bentuk badan, keadaan kesehatan, gizi, berat badan, tidur atau istirahat,
dan kegiatan jasmaniah. Penjelasan secara singkat sebagai berikut:
Setiap tingkatan umur
mempunyai keuntungan yang sendiri. Kebugaran jasmani dapat ditingkatkan pada
hampir semua usia.
Masing-masing jenis
kelamin memiliki keuntungan yang berbeda. Secara hukum dasar wanita memiliki
potensi tingkat kebugaran jasmani yang lebih tinggi dari pria. Dalam keadaan
normal mereka mampu menahan perubahan suhu yang jauh lebih besar. Kaum laki-laki
cenderung memiliki potensi dalam kebugaran jasmani, dalam arti bahwa potensi
mereka untuk tenaga dan kecepatan lebih tinggi.
Kebugaran jasmani yang
baik dapat dicapai dengan bentuk badan apapun sesuai dengan potensinya.
Makanan
sangat perlu, jika hendak mencapai dan mempertahankan kebugaran jasmani dan
kesehatan badan. Makanan yang seimbang (12% protein, 50% karbohidrat, 38 %
lemak) akan mengisi kebutuhan gizi tubuh.
Berat
badan ideal dan berlebihan atau kurang akan dapat melakukan perkerjaan dengan
mudah dan efesien.
8. Tidur dan
istirahat
Tubuh
membutuhkan istirahat untuk membangun kembali otot-otot setelah latihan
sebanyak kebutuhan latihan di dalam merangsang pertumbuhan otot. Istirahat yang
cukup perlu bagi badan dan pikiran dengan makanan dan udara.
9. Kegiatan
jasmaniah atau fisik.
Kegiatan
jasmaniah atau fisik yang dilakukan sesuai dengan prinsip latihan, takaran
latihan, dan metode latihan yang benar akan membuat hasil yang baik. Kegiatan
jasmani mencegah timbulnya gejala atrofi karena badan yang tidak diberi
kegiatan. Atrofi didefinisikan sebagai hilang atau mengecilnya bentuk otot
karena musnahnya serabut otot. Pada dasarnya dapat terjadi baik secara
fisiologi maupun patologi. Secara fisiologi, atrofi otot terjadi pada otot-otot
yang terdapat pada anggota gerak yang lama tidak digunakan seperti pada keadaan
anggota gerak yang dibungkus dengan gips. Atrofi ini sering disebut disuse
atrofi. Sebaliknya, secara patologi atrofi otot dibagi menjadi 3, yaitu: atrofi
neurogenik, atrofi miogenik, dan atrofi artogenik. Atrofi neurogenik timbul
akibat adanya lesi pada komponen motorneuron atau akson (Sidharta, 2008).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar